Dua hari terakhir terasa berbeda, meski tidak ada peristiwa besar yang benar-benar terjadi. Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada kejadian dramatis yang bisa dijadikan penanda. Hanya perubahan kecil, nyaris tak terlihat..... tapi cukup jelas untuk membuat hatiku menyadarinya lebih dulu daripada pikiranku. Dulu, setiap kali aku berada di dekatnya, ada energi yang terasa berbeda. Ia seperti selalu punya cara untuk tampak lebih hidup, lebih ringan, lebih terbuka. Gesturnya sedikit lebih cepat, langkahnya sedikit lebih ringan, sorot matanya seperti tidak sengaja mencari-cari sesuatu di sekitarku. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya, tapi aku selalu merasakannya. Seperti ada getaran halus yang hanya bisa dipahami tanpa perlu diterjemahkan. Tapi dua hari ini, semuanya berubah menjadi lebih sunyi. Ia masih ada, masih lewat di tempat yang sama, masih berada dalam jarak yang bisa kuhitung dengan langkah. Namun ada sesuatu yang hilang....... seperti jarak tak kasatmata yang t...
Kemarin sebenarnya hari yang penuh kemungkinan. Aneh rasanya menyadari itu justru setelah semuanya lewat. Ada begitu banyak celah kecil yang seharusnya bisa menjadi awal, momen singkat yang, kalau saja sedikit lebih berani, mungkin berubah menjadi percakapan sederhana. Tidak harus panjang, tidak perlu penting. Cukup satu sapaan ringan, satu kalimat yang membuka pintu kecil di antara dua orang yang selama ini hanya saling tahu tanpa benar-benar mengenal. Aku ingat jelas bagaimana jarak kami tidak sejauh biasanya. Beberapa kali langkah kami searah, beberapa kali waktu terasa seperti memberi jeda yang sengaja dipanjangkan. Ada detik-detik yang terasa terlalu lambat, seperti dunia sedang menunggu sesuatu terjadi. Tapi justru di saat itulah aku memilih diam. Bukan karena tidak ingin, bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu ingin, terlalu peduli, sampai tubuhku sendiri seperti menolak bekerja sama. Ada banyak kalimat yang sudah kususun rapi di kepala. Sapaan paling sederhana sekal...