Skip to main content

Posts

Terlalu Sibuk Menunggu Keberanian Datang dengan Sendirinya

Dua hari terakhir terasa berbeda, meski tidak ada peristiwa besar yang benar-benar terjadi. Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada kejadian dramatis yang bisa dijadikan penanda. Hanya perubahan kecil, nyaris tak terlihat..... tapi cukup jelas untuk membuat hatiku menyadarinya lebih dulu daripada pikiranku. Dulu, setiap kali aku berada di dekatnya, ada energi yang terasa berbeda. Ia seperti selalu punya cara untuk tampak lebih hidup, lebih ringan, lebih terbuka. Gesturnya sedikit lebih cepat, langkahnya sedikit lebih ringan, sorot matanya seperti tidak sengaja mencari-cari sesuatu di sekitarku. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya, tapi aku selalu merasakannya. Seperti ada getaran halus yang hanya bisa dipahami tanpa perlu diterjemahkan. Tapi dua hari ini, semuanya berubah menjadi lebih sunyi. Ia masih ada, masih lewat di tempat yang sama, masih berada dalam jarak yang bisa kuhitung dengan langkah. Namun ada sesuatu yang hilang....... seperti jarak tak kasatmata yang t...
Recent posts

Akulah yang Membiarkannya Tidak Pernah Dimulai

Kemarin sebenarnya hari yang penuh kemungkinan. Aneh rasanya menyadari itu justru setelah semuanya lewat. Ada begitu banyak celah kecil yang seharusnya bisa menjadi awal, momen singkat yang, kalau saja sedikit lebih berani, mungkin berubah menjadi percakapan sederhana. Tidak harus panjang, tidak perlu penting. Cukup satu sapaan ringan, satu kalimat yang membuka pintu kecil di antara dua orang yang selama ini hanya saling tahu tanpa benar-benar mengenal. Aku ingat jelas bagaimana jarak kami tidak sejauh biasanya. Beberapa kali langkah kami searah, beberapa kali waktu terasa seperti memberi jeda yang sengaja dipanjangkan. Ada detik-detik yang terasa terlalu lambat, seperti dunia sedang menunggu sesuatu terjadi. Tapi justru di saat itulah aku memilih diam. Bukan karena tidak ingin, bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu ingin, terlalu peduli, sampai tubuhku sendiri seperti menolak bekerja sama. Ada banyak kalimat yang sudah kususun rapi di kepala. Sapaan paling sederhana sekal...

Keheningan yang Terasa Seperti Akhir Dari Sesuatu yang Sebenarnya Belum Pernah Dimulai

Kemarin, ada satu momen yang terasa begitu padat di dada.... seperti udara tiba-tiba menolak masuk dengan mudah. Bukan sakit fisik, bukan pula sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika medis. Lebih seperti ruang di dalam diri yang mendadak menyempit ketika aku sadar bahwa mungkin, inilah saatnya berhenti berharap. Ada keputusan yang perlahan terbentuk, bukan karena ingin, tapi karena lelah menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar dimulai. Aneh sekali rasanya harus meninggalkan sesuatu yang bahkan belum sempat menjadi apa-apa. Tidak ada kenangan yang jelas, tidak ada percakapan panjang yang bisa diingat, tidak ada janji yang pernah diucapkan. Tapi tetap saja ada kehilangan yang terasa nyata. Seolah-olah aku sedang merelakan kemungkinan, dan kemungkinan itu, entah kenapa, terasa jauh lebih berat daripada kenyataan. Aku masih ingat bagaimana semuanya berjalan dalam diam yang panjang. Beberapa kali aku merasa dia ingin mendekat. Ada momen-momen kecil yang terlalu singkat untuk diseb...

Mungkin, Perjalanan Ini Memang Bukan Tentang Menemukan

Aku sering membayangkan perjalanan ini dimulai jauh sebelum aku benar-benar melangkah. Seolah-olah sejak awal hidup, ada sebuah dorongan yang tak pernah bisa dijelaskan dengan tuntas, dorongan untuk mencari seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar kutemui. Rasanya seperti mendaki gunung tanpa tahu puncaknya di mana. Namun anehnya, setiap langkah tetap terasa penting, seolah di ujung sana ada sesuatu yang menunggu, sesuatu yang selama ini kupanggil sebagai cinta. Dalam bayanganku, aku telah mendaki gunung tertinggi. Angin dingin memukul wajah, napas terasa berat, tapi aku terus melangkah. Aku membayangkan puncak sebagai tempat pertemuan, tempat di mana akhirnya semua pencarian ini masuk akal. Tapi ketika sampai di atas, yang kutemukan hanya langit yang terlalu luas. Indah, iya. Menenangkan, mungkin. Tapi tetap saja kosong. Tidak ada jawaban. Tidak ada dirimu. Hanya aku dan keheningan yang terlalu jujur untuk diabaikan. Aku tidak berhenti di sana. Perjalanan berlanjut, turun dari...

Kepastian Bukanlah Tuntutan yang Berlebihan

Semakin lama aku berdiri di titik ini, semakin terasa bahwa yang melelahkan bukan jaraknya, tapi ketidakjelasannya. Waktu berjalan seperti biasa, hari berganti, rutinitas tetap sama, namun di sela-selanya ada ruang kecil yang terus diisi oleh pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Ruang itu awalnya kecil, hampir tak terasa. Tapi karena dibiarkan terlalu lama, ia tumbuh menjadi sunyi yang berat. Semua bermula dari hal-hal yang tampak sederhana. Tatapan yang datang tanpa janji, kehadiran yang terasa tanpa kata, sinyal-sinyal kecil yang cukup untuk membuat hati bergerak, tapi tidak cukup untuk membuat langkah benar-benar maju. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada sapaan yang bisa dijadikan pegangan. Hanya mata yang seolah berbicara, lalu kembali diam sebelum sempat diterjemahkan. Awalnya, aku menganggapnya manis. Ada rasa berdebar yang diam-diam tumbuh dari ketidakpastian itu. Menebak-nebak terasa seperti permainan kecil yang menyenangkan. Ada harapan yang pelan-pelan menyusup...

Jatuh Cinta, Katanya, Selalu Terasa Manis di Awal

Perjalanan itu sebenarnya sederhana, hanya menyeberangi kota yang sama sekali bukan milikku. Kota dengan langit yang terasa berbeda, udara yang punya bau asing, dan jalanan yang seolah tidak pernah mengenalku sebelumnya. Tapi entah kenapa, semua yang asing itu terasa tidak terlalu jauh selama kamu berjalan di sampingku. Kita tiba di hari yang berbeda dari rutinitas yang biasa kita jalani. Dua hari yang terasa seperti dua dunia yang terpisah dari kehidupan lama. Waktu seperti dipotong rapi, disisihkan khusus untuk kita berdua. Tidak ada kewajiban, tidak ada tuntutan, hanya langkah kaki yang bergerak tanpa tujuan yang terlalu jelas. Dan mungkin di situlah semuanya mulai berubah. Jatuh cinta, katanya, selalu terasa manis di awal. Aku dulu mengira itu hanya kalimat klise yang terlalu sering diulang. Tapi ketika berjalan bersamamu di kota yang tidak kita kenal, aku mulai mengerti maksudnya. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan, seperti tidak ingin waktu bergerak terlalu cepat. Seperti i...

Kamu Berubah. Atau Mungkin Aku yang Berubah

Aku mencoba mengingat kapan terakhir kita benar-benar bicara, bukan sekadar bertukar kata yang lewat begitu saja seperti orang asing yang kebetulan saling mengenal. Anehnya, ingatan itu terasa kabur. Seperti adegan yang pernah ada, tapi perlahan pudar karena terlalu lama tidak diputar ulang. Aku hanya ingat perasaan setelahnya, hening yang aneh, ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih luas dari biasanya. Kapan terakhir kita saling menatap tanpa rasa canggung? Kapan terakhir kata “cinta” terasa seperti sesuatu yang masih punya tempat untuk pulang? Pertanyaan-pertanyaan itu datang pelan, seperti tamu lama yang mengetuk pintu di malam hari. Tidak memaksa, tapi juga tidak mau pergi. Aku mulai menyadari perubahan itu tidak datang sekaligus. Tidak ada satu hari khusus yang bisa ditandai sebagai awal semuanya retak. Perubahan itu datang perlahan, hampir sopan, seperti jarak yang tumbuh diam-diam di antara dua kursi yang dulunya berdempetan. Kita masih duduk di tempat yang sama, tapi entah ...